Rabu, 01 Februari 2012

Aku Pasti Bisa "Berkotbah"

Ketakutan berada di depan orang banyak, ketakutan karena kepercayaan diri, dan banyak lagi ketakutan-ketakutan yang disebutkan oleh orang-orang yang akan memulai langkah perjalanannya menyampaikan Berita Firman.
Bukan sesuatu yang salah ketika ketakutan itu muncul, tetapi toh ketakutan itu harus tetap dapat dikuasai. Pengalaman tentu yang akan menjadi guru yang paling baik dalam melatih mengendalikan ketakutan-ketakutan itu.
Paling tidak, aku melihat ada 3 bentuk ketakutan yang paling sering muncul di benak kita saat akan berkotbah:
  1. Ketakutan berada dan berbicara di depan orang banyak.
  2. Ketakutan akan isi kotbah yang "kurang-greget".
  3. Ketakutan akan kemunafikan dalam kotbah.
Bagi sebagian besar orang, terutama bagi mereka yang baru pertama kali berhadapan dengan orang banyak, ketakutan nomor 1 akan yang paling dominan. Takut jika pada akhirnya, semua hal yang sudah dipersiapkan menjadi buyar saat berada di depan orang banyak. Untuk kasus yang satu ini, memang hanya dengan latihan terus menerus dan menambah jam terbanglah, ketakutan itu akan dikuasai. Atau alternantif lain yang bisa dicoba adalah dengan latihan menghafal kotbah berulang kali sehingga sekalipun ada ketegangan ketika berhadapan dengan orang banyak, ada bagian-bagian yang masih dikuasai dari materi kotbah, sehingga tidak akan terlalu blank saat tegang itu muncul. Tentu saja, latihan untuk mengemukakan sebuah ide di hadapan orang lain menjadi peluang untuk terbiasa berbicara di depan publik.
Ketakutan nomor 2 menjadi ketakutan wajar karena semakin tinggi semester, sudah semakin dijejali dengan berbagai macam mata kuliah yang kurang intens dalam hal tafsir--walau ini tidak bisa menjadi sebuah alasan. Ketakutan akan tafsir yang kurang sesuai, atau kurang menarik, atau apapun yang membuat diri merasa bahwa kotbahnya 'akan' kurang greget bisa dikuasai dengan mempersiapkan lebih baik dengan menggunakan literatur yang mendukung. Ada baiknya--bahkan sebaiknya--mencoba membaca banyak bahan-bahan kuliah yang selama ini sudah mulai tertumpuk dalam di kardus, atau sudah mulai 'rapi' di rak-rak buku.
Berlatih juga membuat sebuah kalimat-kalimat pendek tetapi responsif agar ketika berada di atas mimbar, kita dapat menguasai diri dalam membangun kotbah yang komunikatif. Latihan ini membantu ketika misal, jawaban atas pertanyaan yang dikemukakan oleh jemaat, tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Ketakutan lain, adalah ketika misal selalu merasa kurang dengan apa yang sudah kita persiapkan. Memang sangat perlu untuk mempersiapkan semuanya sebaik mungkin, tetapi bukan berarti kita menjadi seorang yang paranoid, karena pada akhirnya ketakutan yang berlebihan hanya akan membuat kita tak dapat maju. Belajar dari kesalahan dan kekhilafan juga menjadi sebuah pengalaman yang baik dalam melatih kita. Oleh sebab itu, jangan pernah takut untuk salah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar